Cremona — Como menulis halaman sejarah terbesar dalam perjalanan klub dengan mengalahkan Cremonese 4-1 di Stadio Giovanni Zini, Minggu (24/5/2026) malam. Kemenangan dramatis itu memastikan I Lariani meraih tiket Liga Champions untuk pertama kalinya, sementara Emil Audero dan kesebelasan Cremonese harus menutup musim dengan kepastian degradasi ke Serie B.
Laga penutup Serie A 2025-26 ini menjadi satu dari duel paling penting di sekujur Italia. Bagi Como, kesempatan emas lolos kompetisi Eropa tertinggi sedang menanti. Bagi Cremonese, harapan sekecil apapun untuk bertahan di elite masih menggantung jelang kick-off. Namun Cesc Fabregas dan timnya tampil tanpa ampun di markas tuan rumah yang dipimpin oleh Emil Audero.

Jalannya Pertandingan
Babak pertama menjadi batu loncatan Como untuk menguasai duel ini. Menit demi menit, Cremonese terdesak ke zona pertahanan. Ketegangan mulai memuncak saat masuk menit 16, ketika Jari Vandeputte harus keluar lapangan akibat cedera. Substitusi awal itu menjadi sinyal pertama bahwa hari tidak berpihak pada Cremonese. Enam menit kemudian, menit 20, Jesús Rodríguez mengatakan sesuatu dengan kartu kuning karena argumen dengan wasit — tanda kedisiplinan Como yang mulai rapuh. Namun Cremonese lebih keras lagi: Morten Thorsby langsung mendapat kartu merah di menit 21 karena pelanggaran kasar, meninggalkan timnya dengan 10 pemain.
Dengan keuntungan numerik, Como tidak buang waktu. Menit 36, Jesús Rodríguez sendiri yang membobol gawang Cremonese tanpa umpan, membawa tamu unggul 0-1. Cremonese masuk ruang istirahat dalam tekanan berat.
Babak kedua dimulai dengan substitusi ganda Cremonese di menit 46 — Michele Collocolo dan Romano Floriani Mussolini masuk — tapi respons itu terlalu lambat untuk menghentikan gelombang Como. Justru, Como semakin menggila. Menit 51, Anastasios Douvikas menambah keunggulan menjadi 0-2 setelah menerima umpan presisi dari Rodríguez. Pertahanan Cremonese sudah benar-benar porak-poranda.

Federico Bonazzoli mencoba menyalakan harapan di menit 55 dengan gol penalti yang membuat skor menjadi 1-2, namun itu hanya sekadar mengurangi kekalahan. Situasi semakin buruk ketika VAR memberikan penalti kedua untuk Como di menit 68 setelah intervensi si layar kecil. Lalu di menit 71, chaos meledak: Milan Djuric mendapat kartu merah, Alberto Grassi juga merah, dan David Okereke ikutan mengakhiri pertandingannya dipaksa dengan keputusan arbitrase. Tiga pemain Cremonese dalam hitungan detik — sebuah momen yang menggambarkan keputusasaan dan frustrasi yang memuncak.
Lucas Da Cunha mengeksekusi penalti kedua di menit 74 untuk membuat skor 1-3. Pertandingan sudah selesai secara substansi; hanya tinggal waktu yang berjalan. Da Cunha menambah lagi di menit 81, mengamankan kemenangan 1-4 dengan umpan dari Maxence Caqueret, menutup festival gol Como dengan sempurna.
Pertunjukan Individu dan Dampak Sejarah
Lucas Da Cunha keluar sebagai bintang terang, mencetak dua gol dan mencatatkan rating 8.2 — penampilan mengemuka yang membantu Como menyapu Cremonese habis-habisan. Jesús Rodríguez, dengan satu gol dan satu assist serta rating 7.9, menjadi jembatan serangan Como yang efektif. Untuk Cremonese, Federico Bonazzoli mencuri poin dengan rating 7.5 berkat gol penaltinya di menit 55, satu-satunya kecerahan di hari yang paling kelam dalam musim ini.
Hasil ini mengukuhkan sesuatu yang tak terlupakan bagi Como. Klub yang hanya beberapa dekade lalu berkubang di divisi rendah kini akan membuktikan diri di panggung teratas Eropa. Fabregas, mantan legenda Arsenal dan Chelsea, telah menulis namanya dalam catatan sejarah Como dengan membawa club Lariani itu meraih tiket Liga Champions untuk pertama kalinya. Sementara Cremonese, setelah musim yang penuh perjuangan, harus menerima kenyataan pahit: kembali ke Serie B musim depan.
Menurut laporan Goal, Fabregas memuji para pemainnya sebagai «tim terbaik yang pernah saya latih», sementara dari CNN Indonesia dan Detik Sport, situasi Emil Audero di Cremonese kini membuka peluang pulang ke Como atau justru berlabuh lebih tinggi, mungkin ke Juventus. Bola.net melaporkan bahwa Calvin Verdonk juga berkesempatan meraih momen serupa bersama Como di panggung Liga Champions musim depan — dua pemain Timnas Indonesia yang bisa membanggakan negeri di kompetisi terkuat benua Eropa.
Dengan 42 persen penguasaan bola namun hanya satu tembakan tepat sasaran, Cremonese pada hari itu tidak mampu berdiri sejajar dengan Como yang menampilkan dominasi nyata dengan 15 tembakan dan enam tepat sasaran. Cerita pertandingan ini bukan sekadar angka; ini adalah percikan sejarah yang dilukis dengan drama, emosi, dan akhir yang sangat pahit bagi tuan rumah.