Alkmaar — Pertandingan penutup musim Eredivisie 2025/26 menghadirkan kisah dramatis yang tak terduga. AZ Alkmaar dan NAC Breda sepakat bercerai dengan skor 3-3 di AFAS Stadion, Minggu (17/5/2026), dalam duel yang berbelok-belok seperti roller coaster emosi. Tuan rumah yang seharusnya menutup musim dengan kemenangan mudah berhadapan dengan tim yang telah terdegradasi dengan penuh semangat pembalasan, mencuri poin berharga di menit-menit penutup.
Laga ini menjadi momentum spesial bagi AZ Alkmaar setelah merayakan gelar Piala Belanda 2025/26 dengan kemenangan 5-1 atas NEC Nijmegen minggu sebelumnya. Namun, euforia itu tidak cukup untuk melindungi pertahanan mereka ketika NAC Breda memutuskan untuk menyerang dengan taktik berbeda di babak lanjutan. Dengan penguasaan bola 86 persen, AZ seharusnya mendominasi, namun NAC Breda yang memiliki 92 persen possesi menunjukkan performa mengejutkan dengan 11 tembakan tepat sasaran dari 17 total percobaan.

Jalannya Pertandingan
Babak pertama berjalan relatif seimbang meski AZ Alkmaar mencoba mengontrol permainan. Kedua tim membangun ritme pertahanan yang solid, dengan NAC Breda fokus pada transisi cepat meski menjadi tamu di markas lawan. Momentum berubah drastis memasuki babak kedua ketika langkah-langkah substitusi mulai membawa karakter baru ke lapangan. Di menit 54-55, NAC Breda melakukan perubahan ganda dengan memasukkan Jayden Candelaria, Juho Talvitie, dan Charles-Andreas Brym secara beruntun, sinyal bahwa mereka siap meningkatkan intensitas serangan.
Strategi itu terbukti manjur. Pada menit 61, Moussa Soumano menerima umpan sempurna dari Cherrion Valerius dan menjebol gawang AZ dengan sundulan presisi, mengubah skor menjadi 2-1 untuk NAC Breda. Momentum berlanjut di menit 71 ketika Soumano mencetak gol keduanya, kali ini menyambut umpan dari Fredrik Oldrup Jensen, menyamakan kedudukan 2-2. Drama mencapai puncaknya di menit 89 ketika Juho Talvitie, pemain substitusi, menyelesaikan comeback spektakuler NAC Breda dengan gol ketiga mereka atas assist Valerius, membawa skor menjadi 2-3.
Menjelang peluit penutup, AZ Alkmaar masih punya waktu untuk menampar balik. Dalam ketegangan akhir pertandingan, mereka berhasil menyamakan kedudukan kembali menjadi 3-3, mengakhiri laga dalam kesan ambivalen untuk kedua belah pihak. Dinamika permainan mencerminkan dedikasi NAC Breda meskipun sudah dipastikan terdegradasi dari Eredivisie, sementara AZ Alkmaar tidak bisa menutup musim dengan kemenangan prestis.

Sven Mijnans bermain aktif untuk AZ, mencatatkan satu gol dan satu assist dengan rating 8.7, sementara Roma Jayden Owusu-Oduro dinobatkan sebagai pemain terbaik AZ dengan rating 9.2 atas performa defendingnya yang konsisten sepanjang 91 menit. Namun bintang babak kedua adalah Moussa Soumano dari NAC Breda dengan dua gol dan rating 8.3, menunjukkan finishing tajam yang tidak terduga dari tim penghuni papan bawah.
Data statistik mengungkap kontrast menarik: meskipun AZ Alkmaar mendominasi penguasaan bola 86 persen, NAC Breda justru lebih efektif dengan 92 persen possesi mereka sendiri. AZ mengeluarkan 16 total tembakan (10 tepat sasaran), sementara NAC Breda melakukan 17 tembakan dengan 11 diantaranya mengarah ke gawang. Intensitas fisik juga berbeda, dengan AZ Alkmaar melakukan 11 pelanggaran dibanding 6 milik NAC Breda, masing-masing menerima satu kartu kuning untuk Rio Hillen (NAC Breda, menit 59).
Menurut laporan Goal.com, pertandingan ini menjadi perpisahan dramatis bagi NAC Breda dari Eredivisie setelah musim yang penuh kontroversi. Klub yang terlilit masalah 'Paspoortgate' terkait status Dean James, pemain yang selanjutnya bermain untuk Go Ahead Eagles, akhirnya terdegradasi dengan sedikit kehormatan setelah pertarungan sengit melawan juara Piala Belanda. Meskipun gagal meraih kemenangan, performa NAC Breda di laga ini menunjukkan karakter yang tidak menyerah, sebuah pesan positif menjelang babak baru di divisi lebih rendah.
AZ Alkmaar, meskipun mengamankan point dari hasil imbang, harus puas dengan pencapaian musim yang bercahaya di kompetisi cup namun agak mengecewakan di laga penutup liga. Skuad besutan pelatih AZ akan memasuki musim pra-kompetisi dengan catatan: pertahanan masih perlu penyempurnaan, terutama ketika menghadapi tim yang memiliki semangat tinggi meski sudah terpojok di klasemen. Laga pertama musim depan akan menjadi kesempatan untuk memulai ulang dengan momentum lebih solid.