Auxerre meraih kemenangan meyakinkan 3-1 atas Angers pada Minggu, 3 Mei 2026, di Stade de l'Abbé Deschamps. Pertandingan laga ke-32 musim reguler Ligue 1 ini menjadi momen krusial bagi tuan rumah yang berjuang menghindari degradasi. Mara membawa tim kandang unggul lebih dulu, kemudian duplikat golnya di babak kedua memastikan Auxerre menutup laga dengan dominasi penuh, meski Angers berhasil menyelamatkan muka lewat penalti di akhir pertandingan.
Auxerre memulai agresif sejak menit pertama dan langsung menuai buah manis. Di menit ke-12, Sékou Mara menjebol pertahanan tamu dan membawa skor ke 1-0. Gol pembuka itu memberikan kepercayaan diri bagi skuad anak asuh Christophe Pélissier untuk terus menekan. Pada menit 45+1, laga mencatat insiden discipliner ketika Amine Sbaï dari Angers menerima kartu kuning karena masalah argumentasi dengan wasit.

Babak kedua dimulai dengan dramatis. Tiga menit setelah peluit tertiup, Bryan Okoh menerima kartu merah kedua (handball) dan VAR menyurati wasit untuk memberikan penalti kepada Angers di menit 49. Namun, Branco van den Boomen gagal mengeksekusi dari titik putih—kiper Auxerre berhasil menyelamatkan tendangannya. Momentum itu sepenuhnya berpihak kepada Auxerre. Mara menambah keunggulan di menit 61, mengemas umpan darinya Lassine Sinayoko menjadi gol kedua dan membuat skor 2-0.
Sinayoko sendiri menjadi tokoh berikutnya yang menggamit jala. Enam menit kemudian, penyerang Auxerre itu menerima oper dari Mara dan menyelesaikan dengan percaya diri untuk 3-0 di menit 67. Pertandingan terasa sudah berakhir, namun Angers tidak menyerah. Melalui upaya VAR lagi, Goduine Koyalipou diminta eksekusi penalti dan berhasil mencetak gol untuk 3-1 di menit 77, mengurangi kekalahan Angers tetapi tidak mengubah hasil akhir.
Statistik pertandingan memperlihatkan dominasi Auxerre yang sangat ketara. Meski Angers memiliki penguasaan bola lebih tinggi (81 persen berbanding 100 persen), tamu justru ketakutan dengan 19 tembakan dibanding 9 tembakan Auxerre. Tamu melepas 10 tembakan tepat sasaran, sementara tuan rumah hanya 3—namun kesuksesan finishing Auxerre lebih penting. Disiplin juga berbeda; Angers menerima empat kartu kuning, sementara Auxerre hanya dua.

Lassine Sinayoko dinobatkan sebagai pemain terbaik dengan rating 9.5. Penyerang itu bermain spektakuler selama 96 menit, mencetak satu gol dan satu assist, serta 5 tembakan dengan 3 mengenai sasaran. Mara, dengan rating 8.9, juga patut dipuji atas kontribusinya dua gol dan satu assist dalam 79 menit bermain. Pasangan tersebut menciptakan simfoni ofensif yang memukul pertahanan tamu berkali-kali.
Menurut laporan RRI dan Media Indonesia, kemenangan ini sangat penting bagi Auxerre dalam perang bertahan dari zona bahaya. Les Ajaistes, yang sebelumnya dalam posisi kritis degradasi, kini memiliki kesempatan emas untuk mengamankan keselamatan diri dengan tiga poin berharga. Angers, sebaliknya, semakin terseret ke dalam zona playoff degradasi setelah kekalahan telak ini dan performa buruk dalam minggu-minggu terakhir musim.
Hasil ini merupakan bouncing back sempurna bagi Auxerre setelah tertekan pada laga-laga sebelumnya. Dengan penampilan sebagus ini—didukung kualitas finishing yang tajam dan disiplin taktis yang ketat—Auxerre memberi sinyal kuat bahwa mereka siap bertahan di Ligue 1. Laga terakhir musim menjadi ajang penentuan, dan momentum ini adalah aset berharga untuk Les Ajaistes menghadapi tantangan sisa pertandingan.